<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"><channel><title>Mercusuar — Writing</title><description>Field notes and analysis on ASEAN maritime activity. Open intelligence, written in decades.</description><link>https://mercusuar.org/</link><language>en</language><copyright>© 2026 Canggih</copyright><item><title>Melihat Dari Ketinggian 10 Meter di Aceh dan Surabaya, Langkah Awal Mengenali Lautnya Indonesia</title><link>https://mercusuar.org/writing/melihat-dari-ketinggian-10-meter-di-aceh-dan-surabaya-langkah-awal-mengenali-lautnya-indonesia/</link><guid isPermaLink="true">https://mercusuar.org/writing/melihat-dari-ketinggian-10-meter-di-aceh-dan-surabaya-langkah-awal-mengenali-lautnya-indonesia/</guid><description>Upaya mewujudkan Indonesia sebagai poros maritim dunia memerlukan pemahaman mendalam tentang kedaulatan kelautan yang dirintis sejak Deklarasi Djuanda, serta karakteristik hidrodinamika lokal seperti pola angin dan gelombang. Analisis data reanalisis atmosferik MERRA-2 tahun 2025 pada dua kelas klimatik, Banda Aceh dan Surabaya, menunjukkan perbedaan signifikan akibat efek Coriolis. Banda Aceh memiliki kecepatan angin tahunan 58% lebih tinggi dan fluktuatif, sedangkan Surabaya cenderung lebih tenang dan konsisten, sehingga pelayaran di Surabaya lebih mudah diprediksi. Pemetaan karakteristik angin regional yang homogen ini sangat krusial untuk mengoptimalkan efisiensi energi kapal komersial serta merancang desain layar modern berbasis wind-assist propulsion yang sesuai dengan geografi nusantara.</description><pubDate>Tue, 02 Jun 2026 23:52:59 GMT</pubDate><category>Coriollis Effect, Monsoon Season, Merra 2, Indonesia, Aceh, Surabaya </category><category>Indonesia</category></item><item><title>Menolak Menjadi Penonton: Menggali Identitas Muson dan Membayangkan Masa Depan Alternatif Maritim Indonesia</title><link>https://mercusuar.org/writing/menolak-menjadi-penonton-menggali-identitas-muson-dan-membayangkan-masa-depan-alternatif-maritim-indonesia/</link><guid isPermaLink="true">https://mercusuar.org/writing/menolak-menjadi-penonton-menggali-identitas-muson-dan-membayangkan-masa-depan-alternatif-maritim-indonesia/</guid><description>Blokade Selat Hormuz pada tahun 2026 memicu krisis energi global yang sangat berdampak bagi Indonesia akibat ketergantungan tinggi pada impor minyak bumi. Secara historis, komoditas energi selalu menjadi pemicu utama konflik geopolitik dunia, mulai dari embargo Amerika Serikat terhadap Jepang pada Perang Dunia II, kudeta di Iran tahun 1953, hingga pembentukan sistem petrodollar pasca-Perang Yom Kippur 1973. Sebagai solusi ketergantungan fosil, Indonesia dapat merefleksikan kearifan lokal nenek moyang yang sukses memanfaatkan angin muson Hindia tanpa krisis energi. Saat ini, adopsi teknologi ramah lingkungan modern berbasis angin seperti wind-assist propulsion menjadi peluang krusial bagi kemandirian energi nasional.</description><pubDate>Fri, 22 May 2026 23:27:56 GMT</pubDate><category>Maritime Industry, Strait of Hormuz, Indonesia, Energy Crisis</category><category>Indonesia</category></item><item><title>Sejarah dan Kondisi Halaman Rumah Kita: Selat Malaka</title><link>https://mercusuar.org/writing/sejarah-dan-kondisi-halaman-rumah-kita-selat-malaka/</link><guid isPermaLink="true">https://mercusuar.org/writing/sejarah-dan-kondisi-halaman-rumah-kita-selat-malaka/</guid><description>Indonesia dibentuk oleh keberagaman dan secara historis merupakan nexus globalisasi purba di Samudera Hindia melalui penguasaan maritim Sriwijaya, Majapahit, hingga Kesultanan Malaka. Namun, kejayaan mengelola Selat Malaka sebagai pelabuhan bebas runtuh akibat monopoli VOC, yang idenya kemudian diambil alih Raffles untuk membangun Singapura menjadi raksasa logistik hingga saat ini. Kini, Selat Malaka menjadi arteri perdagangan dunia yang memicu perebutan pengaruh militer (Malacca dilemma) antara China, India, dan AS. Menghadapi potensi konflik di depan rumah pada 2026 ini, Indonesia tidak boleh sekadar mencari sekutu, melainkan harus kembali berdaulat dengan membangun teknologi dan kendali maritim mandiri.</description><pubDate>Tue, 12 May 2026 11:26:52 GMT</pubDate><category>Indonesia Emas, Sejarah Indonesia, Identitas Bangsa</category><category>Indonesia</category></item><item><title>Rumah Yang Bocor di Tengah Hujan</title><link>https://mercusuar.org/writing/rumah-yang-bocor-di-tengah-hujan/</link><guid isPermaLink="true">https://mercusuar.org/writing/rumah-yang-bocor-di-tengah-hujan/</guid><description>Di awal 2026, Indonesia menghadapi tekanan fiskal berat dengan defisit APBN kuartal pertama mencapai Rp240 triliun. Di tengah krisis ekonomi ini, kedaulatan laut terus digerus oleh IUU Fishing yang merugikan negara Rp30 triliun hingga Rp101 triliun per tahun. Dampaknya memukul langsung 2,7 juta nelayan akibat penurunan tangkapan dan lonjakan biaya melaut, serta merusak ekosistem jangka panjang melalui metode destruktif. Ironisnya, anggaran Bakamla sangat minim (Rp729 miliar), dan isu ini terancam makin dikesampingkan demi program ekonomi instan. Padahal, menjaga laut adalah kunci krusial menuju Indonesia Emas 2045.</description><pubDate>Sat, 02 May 2026 07:48:24 GMT</pubDate><category>Indonesia, IUU Fishing, Maritime</category><category>Indonesia</category></item></channel></rss>